Tentang menulis, mengapa menulis,
dan menulislah!
(SIAPA PUN ANDA, MENULIS BERITA, FEATURE,
DAN OPINI
BUKAN BEBAN)
Untuk
menulis, seseorang tidak harus
Berlabel
penyair, cerpenis, novelis,
Sastrawan,
Budayawan,
bahkan wartawan.
Untuk
menulis, ia tidak pula
Mutlak
harus berpredikat seniman.
Namun,
menulis menuntut seni,
the art of writing, agar tulisan seseorang
tidak
hanya untuk dinikmati sendiri.
Predikat
penulis pun tidak semata pengakuan terhadap diri sendiri
Dahlan
Iskan, bos penulis ketika masih di Jawa
Pos, mengatakan berita yang baik itu “menghasut”. Bertolak dari pelajaran
penting tersebut, dalam kembara dari satu ke Koran lain, dari berbagai
pelatihan untuk perusahaan dan memoles internal
publications, lahirlah buku tentang
menulis, mengapa menulis, dan menulislah!: Siapa pun Anda, Menulis Berita,
Feature, dan Opini Bukan Beban ini oleh Penerbit New Diglossia Yogyakarta
(Cetakan Pertama, Agustus 2011).
BAB
I
MENULIS,
MENGAPA HARUS RAGU?
Menulis,
menulis, dan mulailah menulis…
Setiap individu lahir ke bumi dibekali
dengan kemampuan menulis, a gifed writer.
Setiap orang sejatinya adalah penulis. Sosok yang menulis apa pun. Jika di
kemudian hari ia memiliki kemampuan lebih dalam menulis dibandingkan dengan
yang lain, bahkan menyematkan kegiatan menulis sebagai profesi, tentu kelebihan
itu tidak serta merta bisa dirasionalisasikan sebagai bakat dan
takdirnya.Mengapa?
Pada
prinsipnya, menulis tidak sekedar aktivitas fisik, tetapi juga pada ekspresi
diri-dalam kendali hati dan otak-yang menuntut latihan berkesinambungan dan
terpola secara sistematis.
Jika
ia merasa tulisan tersebut hanya untuk konsumsi pribadi atau belum cukup
percaya diri untuk dinikmati orang lain, ia bisa mulai menulis-misalnya-di buku
harian (diary), menulis apa pun seuai
suasana hati (mood) dalam bentuk yang
disukainya. Catatan harian, silahkan. Bagaikan puisi atau cerita pendek juga
tidak masalah. Semau gue-lah. Bebas
lepaskan apa pun yang dipikirkan dan dirasakan.
Apabila
ia merasa perlu orang lain membacanya, tetapi masih tidak cukup percaya diri
mengirimkan tulisan Anda untuk ditrerbitkan media massa-penerbitan khusus
maupun perusahaan pers (Koran, majalah, dan media online)-jangan dulu berkecil hati.
Sebagai
wahana berlatih, seseorang bisa menerbitkannya sendiri. Misalnya, orang lain
bisa membaca tulisan itu di laman (page),
situs pribadi (personal website),
juga lewat blog yang dibikin di multiply, blogspot, wordpress, dan lainnya yang menyediakan layanan
gratis. Bahkan ia bisa menerbitkannya melalui catatan (note) di situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.
Kali
pertama, seseorang harus meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa menulis. Jangan
pernah beranggapan keterampilan menulis itu merupakan bakat alami seseorang.
Bakat tidak akan pernah membuahkan hasil yang dikehendaki jika tidak diasah
latihan dan sentuhan lingkungan.
BAB
II
MEMBACA
UNTUK MENULIS, MENULIS UNTUK DIBACA
Penulis yang baik pasti
pembaca yng baik pula, tetapi pembaca yang baik belum tentu sebagai penulis
yang baik. Mengapa demikian?
Merujuk
bab sebelumnya, tidak lain karena menulis menuntut pengorbanan berupa latihan
secara berkesinambungan dan terpola, sedangkan menjadi pembaca yang baik
meminta pengorbanan yang tidak sebesar keinginan mewujudkan diri sebagai
penulis yang baik.
Kiranya
banyak orang, khususnya yang bergerak di dunia akademik serta di bidang
pemikiran dan kebijakan, menginginkan antara membaca dan menulis mampu menjadi
keterampilan yang sinergis. Sebutlah reading
to write and writing to be read.
Membaca (sebagai modal dan senjata untuk menulis dan menulis untuk dibaca (oleh
orang lain).
Jika
tujuan tersebut berhasil diwujudkan, seseorang mendapatkan tidak hanya nama dan
kepuasan batin, melainkan pula keuntungan finansial dan apresiasi lain dalam
pekerjaan maupun kariernya.
Menulis pun tidak sekedar ekspresi
individu, tetapi juga aktualisasi kemampuan seseorang sekaligus mampu
memberikan mata rantai manfaat untuk orang lain.
Dengan
membaca rangsangan dari lingkungan-melalui pengalaman dan pengamatan
langsung-pada prinsipnya Anda telah berhasil mengenggam unsur 5W (what, who, when, where, why) dan 1H (how) yang merupakan nadi-nadi pokok
tulisan. Tidak mutlak sebagai berita meskipun unsur 5W 1H merupakan nyawa yang
tidak terpisahkan darinya.
Model
telah Anda genggm. Segeralah menuliskannya. Jika merasa belum cukup modal atau
belum puas, cobalah mencari landasan penguat sekaligus pengayaan lewat membaca
buku maupun acuan lainnya yang relevan dengan argumentasi maupun deskripsi Anda.
BAB
III
SETELAH
FONDASI, SELANJUTNYA…
A.
MAKNA PENTING OUTLINE
Sangat
penting menyusun garis besar rencana konstruksi tulisan seseorang. Agar tidak
kehilangan arah dan bingung akibat tema yang diangkat kadang dinilai terlalu
luas, tumpang tindih, serta tidak berurutan-kehilangan fokus jika semuanya
dirangkum-, maka ia perlu membikin outline.
Seperti wujud bangunan rumah, tema
merupakan konstruksi utuh sebuah tulisan yang diinginkan, sedangkan outline fondasinya. Membangun rumah
pasti dimulai dengan fondasi. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya
membangun rumah tanpa fondasi, tetapi tiba-tiba memasang batu, kayu sebagai
tembok.
Jadi, bisa dipahami betapa besar makna
outline, khususnya untuk mereka yang
baru pada taraf berlatih menulis. Dengan outline,
seseorang bisa menjaga nafas seluruh tulisannya tetap fokus pada tema. Ia juga
bisa mempersempit cakupan pembahasan atas tema jika dinilai terlalu luas agar
lebih mendalam, tetapi tidak menghilangkan pesan penting diminta tema tersebut
meskipun tanpa berpanjang lebar kata.
B.
KEKUATAN DESKRIPSI
Jika
outline dimiliki sebelumnya, maka
faktor penting lainnya yang harus dikuasai penulis saat menulis adalah kekuatan
deskripsi.
Kekuatan
ini ibarat mulut yang bercerita meskipun tulisan tidak disajikan dalam gaya
bertutur. Tentu penuturan harus masih terkait atau memiliki relevansi dengan
tema.
Kepada Carole Rich yang
menuliskannya dalam Writing and
ReportingNews: A Coaching Method (Belmont, CA: Wadsworth Publishing
Company, 2000), Buchanan menyodorkan beberapa langkah membuat berita yang bagus
dengan memenuhi unsur detail, menarik, dan memudahkan pembaca memahaminya.
Jurus-jurus tersebut dirangkum sebagai berikut:
·
Kapan pun memungkinkan, tunjukkan
aktivitas orang-orang dalam berita. Tunjukkan dan ceritakan.
·
Gunakan kalimat sederhana tetapi lincah
dan variatif, serta sebisa mungkin berkonstruksi subyek-predikat-obyek. Jika
terpaksa kalimat harus panjang, upayakan kalimat sesudahnya pendek.
·
Tekankan pemakaian kata kerja aktif.
Kata kerja pasif dipakai seandainya benar-benar tidak bisa dihindari atau
bertujuan menekankan subyek berita agar lebih menarik perhatian pembaca.
·
Terjemahkan kata dan istilah asing.
·
Gunakan detail spesifik daripada kata
sifat.
·
Manfaatkan kekuatan diksi untuk proses risk-taking writing dan style
baru agar tidak terjebak dalam penulisan yang pas-pas an.
BAB
IV
CERMATI
BAHASA
Bahasa
menunjukkan bangsa. Bahasa mencerminkan tidak hanya identitas pemakainya,
tetapi juga mewakili kemampun, pola pikir, serta etika pemakainya. Dari sebuah
tulisan cukup bisa ditebak apa dan bagaimana penulisannya. Cara media massa
menyampaikan beritanya juga tidak semata mewakili kemampuan wartawannya, tetapi
juga menunjukkan kelasnya.
Bahasa
dalam tulisan resmi yang dipublikasikan untuk konsumsi umum dan di media massa
seharusnya merujuk pada bahasa baku, yaitu bahasa resmi sesuai ketentuan tata
bahasa dan pedoman ejaan yang disempurnakan, serta pedoman pembentukan istilah
yang menyertainya. Pedoman tersebut terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indoneia (KBBI).
A.
PENULISAN KATA
1. Kata
berimbuhan (yang mendapatkan awalan, sisipan, akhiran)
·
Awalan
me- + konsonan berawalan k, p, t, s menjadi luluh.
·
Awalan
me- + konsonan ganda (konsonan-konsonan-vokal) tidak luluh.
·
Di-,
ke- apabila diikuti kata kerja digabung dengan kata yang mengikutinya, tetapi
dipisah jika diikuti kata benda maupun keterangan tempat.
2. Kata
ulang, ditulis lengkap dengan tanda hubung.
3. Gabungan
kata/majemuk bagian-bagiannya ditulis terpisah.
4. Gabungan
kata yang dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
5. Gabungan
kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri ditulis serangkai
dengan unsur lainnya.
6. Jika
bentuk tersebut (poin 5) diikuti kata berhuruf awal kapital, maka di antara kedua
unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
7. Khusus
untuk kata “serba” tidak digabung bila dianggap sebagai kata ulang
(serba-serbi) dan menghadapi konjungi, preposisi, partikel.
8. Kecuali
untuk “Maha Esa” , “maha” dan “peri” jika diikuti kata berimbuhan ditulis
terpisah.
9. Partikel
pun yang berarti ‘juga’ ditulis
terpisah dari kata yang mendahuluinya, tetapi aturan ini tidak berlaku pada
kelompok padu, seperti adapun, andaipun,
ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun,
sekalipun, sungguhpun, walaupun.
10. Partikel
per yang berarti ‘mulai, demi, tiap’
ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendampinginya.
B.
PENULISAN HURUF KAPITAL
1. Huruf
pertama pada awal kata sebuah kalimat.
2. Huruf
pertama dalam kalimat petikan langsung.
3. Huruf
pertama ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal keagamaan, kitab suci,
nama Tuhan.
4. Huruf
pertama nama jabatan atau gelar yang diikuti nama orang atau nama instansi/lembaga/organisasi.
5. Kata-kata
van, den, da, de, bin, ar, ibnu yang
digunakan sebagai nama orang tetap ditulis dengan huruf kecil, kecuali sebagai
nama pertama.
6. Huruf
pertama nama bangsa, suku, dan bahasa kecuali nama tersebut mendapatkan
imbuhan.
7. Huruf
pertama nama hari, bulan, tahun, peristiwa bersejarah, dan kegiatan.
8. Huruf
pertama nama geografi, kecuali yang berarti
‘jenis’
9. Huruf
pertama nama resmi badan dan nama dokumen.
10. Huruf
pertama istilah kekerabatan (bapak, ibu, saudara, kakak, adik, termasuk, Anda)
sebagai kata ganti sapaan.
C.
PENULISAN HURUF KURSIF
1. Nama
buku, media massa, dan kantor berita.
2. Judul
karangan, nama rubrik, nama acara/program televisi, judul lagu dan film.
3. Nama
ilmiah, istilah asing, dan bahasa Indonesia belum baku.
4. Penekanan
pada kata atau kalimat yang dipentingkan.
5. Tuturan
langsung
6. Singkatan
dalam bahasa asing, kecuali nama lembaga.
D.
TANDA BACA
1. Penulisan
Tanda Titik (.)
2. Penulisan
Tanda Koma (,)
3. Penulisan
Tanda Petik Ganda (“…..”)
4. Penulisan
Tanda Petik Tunggal (‘…..’)
5. Penulisan
Tanda Hubung (-)
6. Penulisan
Tanda Pisah (-)
E.
KATA TRANSISI
Kata-kata
transisi berfungsi sebagai “jalan tengah” dari polarisasi repetisi dan kata
ganti. Bila repitisi menghendaki pengulangan kata-kata kunci dan kata ganti
tidak menghendaki pengulangan sebuah kata, maka kata transisi menempuh jalan
tengah dengan menghadirkan kata atau frasa transisi sebagai penghubung atau
katalisator antara satu preposisi dan preposisi lainnya.
F.
GAYA SELINGKUNG
Sebuah
pilihan kata kadang tidak sesuai dengan aturan dalam pedoman bahasa Indonesia,
tetapi para ahli bahasa pun tidak berwenang menyalahkannya karena, sebagaimana
disinggung pada awal bab ini, faktor keberterimaannya oleh masyarakat luas.
G.
BEBERAPA KASUS
Beberapa
kasus yang sering mucul, diantaranya berkaitan dengan:
1. Pasangan
Kata
2. Bentuk
Bersaing
3. Bentuk
Jamak dan Bentuk Tunggal
4. Penyebutan/
Penulisan Nama
5. Penulian
Singkatan & Akronim
6. Penulian
Nama Tempat
7. Kata
Mubazir
8. Kesalahan
Penempatan Kata Transisi
BAB
V
BERITA
DAN ROHNYA
Berita
(news) menjadi ranah tidak hanya
orang-orang yang sehari-hari beraktivitas di perusahaan pers. Karena keinginan
untuk mempublikasikan aktivitasnya dan kepentingan berinteraksi yang
komunikatif, berita juga menjadi urusan anggota masyarakat.
Dari
berbagai literatur jurnalisme bisa didapatkan beragam definisi tentang berita,
tetapi tidak ada batasan verbalnya yang absolute. Begitu pula dengan informasi (information). Kadang informasi bisa
menjadi berita, tetapi tidak semua
informasi menjadi berita.
A.
UNSUR PENTING
Jelas informasi yang Anda dapatkan dari bagian
informasi tersebut bukan berita. Namun, informasi lalu lintas atau jalan tol
yang Anda dengarkan di mobil dalam perjalanan menuju kantor, bagaimanapun,
merupakan berita karena dalam informasi itu terdapat aktualitas (actuality), salah satu unsur penting
beita. Tidak hanya untuk Anda seorang, tetapi juga aktual untuk yang lainnya.
Tidak jarang berita peristiwa yang memiliki unsur human interest tinggi biasanya
ditindaklanjuti dengan feature.
Namun, ia bisa juga langsung disajikan dalam bentuk feature. Semua tergantung pada berbagai pertimbangan dan kebijakan
redaksional media yang bersangkutan.
B.
DAYA TARIK
Berbagai teori jurnalisme merangkum, secara garis
besar berita dikatakan menarik apabila mampu memengaruhi tidak hanya emosi pembacanya, tetapi juga bisa
memenuhi kebutuhan mereka. Dengan kata
lain, pembaca merasa dilibatkan meskipun tidak terlibat langsung dalam berita.
Yang tidak kalah penting, seperti yang berlaku pada
kebijakan redaksional dan menjadi bahan debat sengit di war room- ruang perang adu argument saat rapat redaksi-adalah
kelayakan berita layak dipublikasikan atau naik cetak. Selain aktual, pada
umumnya berita dinyatakan layak publikasi bila mampu memenuhi beberapa kriteria
pembobotan, seperti:
·
Kedekatan (Proximity)
·
Daya Tarik (Magnitude)
·
Mengunggah Rasa Kemanusiaan (Human Interest)
·
Konflik dan Peristiwa di Luar
Kebiasaan/Luar Biasa (Conflict and
Unusual Event)
·
Orang-orang Ternama dan Selebritis Lokal
(Local Top People and Celebrity)
·
Dampak Pemberitaan (Impact of News Event)
C.
TEKNIK PELIPUTAN DAN PENULISAN
Beberapa
cara bisa ditempuh untuk lebih menjamin sebuah berita mampu membuat pembaca
paham dan peduli, di antaranya, mengobservasi sumber berita, menghimpun detail
peristiwa, mengajukkan beberapa pertanyaan kepada narasumber yang kredibel,
serta yang terpenting be curious
(selalu ingin tahu) segala hal seputar obyek liputan. Untuk menguatkan jurus
membawa pembaca serasa di lokasi kejadian, foto dan/atau grafik, serta
infografik memiliki peranan vital melengkapi berita.
Beberapa alternatif langkah berikut ini bisa
ditempuh dalam menulis berita bermuatan seperti yang telah dipaparkan:
·
Pastikan berita yang bersangkutan memang
dibutuhkan dan lebih mengutamakan kepentingan publik atau pembaca.
·
Pastikan unsur 5W dan 1H sudah dimiliki.
·
Hindari rasa percaya diri yang
berlebihan atas hal-hal penting dalam berita, seperti nama orang, tempat, dan
sebagainya saat meliputi dan wawancara.
·
Pastikan pula dalam outline mengutamakan prinsip liputan berimbang.
·
Judul berita harus memiliki subyek.
·
Teknik dasar penulisan berita umumnya
memakai mekanisme upside down (dari
yang terpenting ke yang kurang penting) atau lazim juga disebut dengan skema
piramida terbalik.
·
Lead
yang
lugas sebaiknya tidak dimulai dengan kata sambung jika, walaupun, meskipun, dan sebagainya karena tidak ada kalimat
yang mendahuluinya.
·
Lead
juga
sebaiknya tidak dimulai dengan kalimat bertingkat yang ditandai dengan
pemakaian kata bahwa serta diupayakan
selalu dalam kalimat aktif. Kalimat pasif dipakai hanya untuk menegaskan subyek
berita.
·
Sebaiknya pula yang dipakai dalam lead adalah penulisan bahasa tulis,
bukan bahasa berita lisan. Pilihan terhadap penulisan ini ada pada kebijakan
redaksional media massa yang berangkutan.
·
Sebisanya dihindari pemakaian kata yang
sama dua kali atau lebih dalam satu kalimat. Kata ganti atau atribut bisa
dipakai untuk kata yang harus diulang.
·
Hindari redundancy alias pemborosan kata.
·
Akronim yang muncul beberapa kali dalam
badan berita ditulis saat kali pertama muncul.
·
Jabatan ditulis di depan nama subyek
atau sumber berita, kecuali yang bersangkutan sudah dikenal luas. Jabatan di
depan nama ditulis kapital dan huruf kecil apabila berfungsi sebagai keterangan
atau penjelas di antara dua tanda koma. Jabatan ditulis di depan tidak diikuti
koma.
·
Perhatikan penulisan bilangan.
·
Hindari penulisan kata atau istilah
teknis tanpa penjelasan.
BAB
VI
MENYELAMI
FEATURE
Lingkungan sekitar
serta bentang alam nan luas ibarat buku tanpa batas. Banyak fenomena dan
peristiwa bisa dibaca darinya sekaligus sebagai bahan yang tiada habis ditulis.
Terserah cara seseorang menyikapinya: apakah fenomena dan peristiwa tertentu
menarik tidak hanya untuk menurut persepsinya, tetapi juga bagi orang lain.
Jika pilihan kedua yang
diambil, seseorang lebih tepat menuliskannya dalam bentuk feature atau berita kisah dengan tetap mengacu pada prinsip dasar
5W dan 1H dalam berita. Jika berita lempang menempatkannya dalam paragraf-paragraf
awal, maka pada penulisan feature
penempatannya tidak kaku dan bisa tersebar dalam keseluruhan badan berita.
A.
UNSUR PENTING
Dalam
bukunya, FeaturE Writing for Newspapaers
(New York: Hasting House Publishing, 1975), Daniel R. Williamson menabalkan
batasan feature sebagai “kisah yang kreatif,
kadang subyektif, yang sengaja di desain untuk menghibur serta menginformasikan
sebuah peristiwa, situasi, ata aspek kehidupan”.
Feature lebih
bertumpu pada persepsi subyektif dan kreativitas wartawan atau penulis dalam
merekonstruksi fenomena atau peristiwa yang diperkuat oleh fakta-fakta maupun
riset yang mendukungnya. Subyektif dalam arti cara wartawan atau penulis
menerapkan sudut pandang maupun penilaian terhadap sebuah fenomena atau
peristiwa.
B.
STRUKTUR DAN TEKNIK PENULISAN
1. Penjudulan
·
Penjudulan dari Titik Pandang
·
Penjudulan Bertanya
·
Penjudulan Berdasarkan Cara
·
Penjudulan dari Unsur 5W+1H
·
Penjudulan dengan Ter-
1. Penulisan
Lead
·
Lead
Rangkuman
(Summary)
·
Lead
Bercerita
(Narrative)
·
Lead
Paparan
(Descriptive)
·
Lead
Informasi
(Informative)
·
Lead
Generalisasi
(Generalization)
·
Lead
Perbandingan
(Comparison)
·
Lead
Ruang
(Compound)
·
Lead
Pemikat
(Teaser)
·
Lead
Teka-Teki
(Puzzle)
·
Lead
Kutipan
(Quote)
·
Bentuk-bentuk Lead lainnya juga masih memungkinkan dipakai, seperti lead kejutan (surprise), lead dengan pertanyaan yang mengejutkan (surprising question), lead seni (art), lead humor, serta lead tunjuk langsung (appoint directly). Pemakaiannya
tergantung pada tuntutan tema.
2. Penulisan
Tubuh
Tubuh feature berfungsi tidak hanya menjelaskan lebih lanjut atas tema
yang dicerminkan lewat judul dan lead sebagai
pembuka, tetapi juga harus bisa menjaga emosi pembaca agar tidak cepat bosan
dan berhenti membacanya. Ingat, kekuatan pembeda feature dengan
berita lempang adalah kemampuannya memengaruhi emosi pembaca.
3. Penulisan
Penutup
Penutup lebih merupakan sebuah
rangkuman atas inventarisasi fakta-fakta yang mendukung tema feature. Wartawan atau penulis bisa pula
menyajikan fakta-fakta baru dalam penutup ini untuk lebih menguatkan tujuan
penulisan feature. Oleh karena itu,
wartawan atau penulis juga dituntut mampu menghasilkan kalimat-kalimat yang
berpengaruh kuat dalam penutupnya.
BAB
VII
MENJAWAB
TANTANGAN ‘OPINI’
A.
KARAKTER DAN IDEOLOGI MEDIA
Memahami
karakter dan ideologi media massa bisa dilakukan dengan analisis bentuk fisik,
muatan atau isi, serta pemakaian gaya bahasanya. Yang tidak kalah penting adalah
memastikan apakah media yang dituju menyediakan ruang liputan atau rubrikasi
untuk liputan maupun tulisan seperti tema artikel opini si penulis.
B.
SYARAT DAN KETENTUAN PEMUATAN
Syarat
dan ketentuan tersebut, di antaranya, menyangkut tema, tulisan, penyajian,
rambu-rambu berkaitan dengan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) maupun
kesusilaan, serta teknik penulisan naskah yang meliputi panjang tulisan (jumlah
kata) dan teknik pengetikan (kadang menentukan jenis font dan penspasian), khususnya untuk artikel yang dikirimkan ke
media cetak.
C.
TEMA TULISAN
Misalnya,
tentang fenomena kekerasan oleh anak-anak sebagai dampak tayangan televisi, di
beberapa wilayah masih terjadi praktik nyontek
saat ujian nasional, teror bom, perekrutan mahasiswa oleh orang-orang yang diduga
sebagai aktivis Negara Islam Indonesia (NII), soal naturalisasi pemain sepak
bola asing, gejolak politik di Timur Tengah, dampak ekonomi pasca-tsunami di
Jepang, artis porno asing yang semakin banyak bermain di film-film nasioanal,
dan sebagainya.
D.
TEKNIK PENULISAN
·
Pengulangan Deskriptif
·
Penalaran atas “Mengapa”
·
Konsistensi
·
Perbandingan
·
Bingkai Sosial
·
Agitasi
·
Prediksi
·
Solusi

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus