Kamis, 24 Maret 2016

Resuman Buku (Tentang menulis, mengapa menulis, dan menulislah! (SIAPA PUN ANDA, MENULIS BERITA, FEATURE, DAN OPINI BUKAN BEBAN)




Tentang menulis, mengapa menulis, dan menulislah!
(SIAPA PUN ANDA, MENULIS BERITA, FEATURE, DAN OPINI
BUKAN BEBAN)


Untuk menulis, seseorang tidak harus
Berlabel penyair, cerpenis, novelis,
Sastrawan,
Budayawan, bahkan wartawan.
Untuk menulis, ia tidak pula
Mutlak harus berpredikat seniman.
Namun, menulis menuntut seni,
the art of writing, agar tulisan seseorang
tidak hanya untuk dinikmati sendiri.
Predikat penulis pun tidak semata pengakuan terhadap diri sendiri

            Dahlan Iskan, bos penulis ketika masih di Jawa Pos, mengatakan berita yang baik itu “menghasut”. Bertolak dari pelajaran penting tersebut, dalam kembara dari satu ke Koran lain, dari berbagai pelatihan untuk perusahaan dan memoles internal publications, lahirlah buku tentang menulis, mengapa menulis, dan menulislah!: Siapa pun Anda, Menulis Berita, Feature, dan Opini Bukan Beban ini oleh Penerbit New Diglossia Yogyakarta (Cetakan Pertama, Agustus 2011).


BAB I
MENULIS, MENGAPA HARUS RAGU?

Menulis, menulis, dan mulailah menulis…
Setiap individu lahir ke bumi dibekali dengan kemampuan menulis, a gifed writer. Setiap orang sejatinya adalah penulis. Sosok yang menulis apa pun. Jika di kemudian hari ia memiliki kemampuan lebih dalam menulis dibandingkan dengan yang lain, bahkan menyematkan kegiatan menulis sebagai profesi, tentu kelebihan itu tidak serta merta bisa dirasionalisasikan sebagai bakat dan takdirnya.Mengapa?
            Pada prinsipnya, menulis tidak sekedar aktivitas fisik, tetapi juga pada ekspresi diri-dalam kendali hati dan otak-yang menuntut latihan berkesinambungan dan terpola secara sistematis.
            Jika ia merasa tulisan tersebut hanya untuk konsumsi pribadi atau belum cukup percaya diri untuk dinikmati orang lain, ia bisa mulai menulis-misalnya-di buku harian (diary), menulis apa pun seuai suasana hati (mood) dalam bentuk yang disukainya. Catatan harian, silahkan. Bagaikan puisi atau cerita pendek juga tidak masalah. Semau gue-lah. Bebas lepaskan apa pun yang dipikirkan dan dirasakan.
            Apabila ia merasa perlu orang lain membacanya, tetapi masih tidak cukup percaya diri mengirimkan tulisan Anda untuk ditrerbitkan media massa-penerbitan khusus maupun perusahaan pers (Koran, majalah, dan media online)-jangan dulu berkecil hati.
            Sebagai wahana berlatih, seseorang bisa menerbitkannya sendiri. Misalnya, orang lain bisa membaca tulisan itu di laman (page), situs pribadi (personal website), juga lewat blog  yang dibikin di multiply, blogspot, wordpress, dan lainnya yang menyediakan layanan gratis. Bahkan ia bisa menerbitkannya melalui catatan (note) di situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.
            Kali pertama, seseorang harus meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa menulis. Jangan pernah beranggapan keterampilan menulis itu merupakan bakat alami seseorang. Bakat tidak akan pernah membuahkan hasil yang dikehendaki jika tidak diasah latihan dan sentuhan lingkungan.


BAB II
MEMBACA UNTUK MENULIS, MENULIS UNTUK DIBACA

Penulis yang baik pasti pembaca yng baik pula, tetapi pembaca yang baik belum tentu sebagai penulis yang baik. Mengapa demikian?
            Merujuk bab sebelumnya, tidak lain karena menulis menuntut pengorbanan berupa latihan secara berkesinambungan dan terpola, sedangkan menjadi pembaca yang baik meminta pengorbanan yang tidak sebesar keinginan mewujudkan diri sebagai penulis yang baik.
            Kiranya banyak orang, khususnya yang bergerak di dunia akademik serta di bidang pemikiran dan kebijakan, menginginkan antara membaca dan menulis mampu menjadi keterampilan yang sinergis. Sebutlah reading to write and writing to be read. Membaca (sebagai modal dan senjata untuk menulis dan menulis untuk dibaca (oleh orang lain).
            Jika tujuan tersebut berhasil diwujudkan, seseorang mendapatkan tidak hanya nama dan kepuasan batin, melainkan pula keuntungan finansial dan apresiasi lain dalam pekerjaan maupun kariernya.
Menulis pun tidak sekedar ekspresi individu, tetapi juga aktualisasi kemampuan seseorang sekaligus mampu memberikan mata rantai manfaat untuk orang lain.
            Dengan membaca rangsangan dari lingkungan-melalui pengalaman dan pengamatan langsung-pada prinsipnya Anda telah berhasil mengenggam unsur 5W (what, who, when, where, why) dan 1H (how) yang merupakan nadi-nadi pokok tulisan. Tidak mutlak sebagai berita meskipun unsur 5W 1H merupakan nyawa yang tidak terpisahkan darinya. 
            Model telah Anda genggm. Segeralah menuliskannya. Jika merasa belum cukup modal atau belum puas, cobalah mencari landasan penguat sekaligus pengayaan lewat membaca buku maupun acuan lainnya yang relevan dengan argumentasi maupun deskripsi Anda.


BAB III
SETELAH FONDASI, SELANJUTNYA…

A.    MAKNA PENTING OUTLINE
Sangat penting menyusun garis besar rencana konstruksi tulisan seseorang. Agar tidak kehilangan arah dan bingung akibat tema yang diangkat kadang dinilai terlalu luas, tumpang tindih, serta tidak berurutan-kehilangan fokus jika semuanya dirangkum-, maka ia perlu membikin outline.
            Seperti wujud bangunan rumah, tema merupakan konstruksi utuh sebuah tulisan yang diinginkan, sedangkan outline fondasinya. Membangun rumah pasti dimulai dengan fondasi. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya membangun rumah tanpa fondasi, tetapi tiba-tiba memasang batu, kayu sebagai tembok.
            Jadi, bisa dipahami betapa besar makna outline, khususnya untuk mereka yang baru pada taraf berlatih menulis. Dengan outline, seseorang bisa menjaga nafas seluruh tulisannya tetap fokus pada tema. Ia juga bisa mempersempit cakupan pembahasan atas tema jika dinilai terlalu luas agar lebih mendalam, tetapi tidak menghilangkan pesan penting diminta tema tersebut meskipun tanpa berpanjang lebar kata.

B.     KEKUATAN DESKRIPSI
Jika outline dimiliki sebelumnya, maka faktor penting lainnya yang harus dikuasai penulis saat menulis adalah kekuatan deskripsi.
Kekuatan ini ibarat mulut yang bercerita meskipun tulisan tidak disajikan dalam gaya bertutur. Tentu penuturan harus masih terkait atau memiliki relevansi dengan tema.
            Kepada Carole Rich yang menuliskannya dalam Writing and ReportingNews: A Coaching Method (Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company, 2000), Buchanan menyodorkan beberapa langkah membuat berita yang bagus dengan memenuhi unsur detail, menarik, dan memudahkan pembaca memahaminya. Jurus-jurus tersebut dirangkum sebagai berikut:
·        Kapan pun memungkinkan, tunjukkan aktivitas orang-orang dalam berita. Tunjukkan dan ceritakan.
·        Gunakan kalimat sederhana tetapi lincah dan variatif, serta sebisa mungkin berkonstruksi subyek-predikat-obyek. Jika terpaksa kalimat harus panjang, upayakan kalimat sesudahnya pendek.
·        Tekankan pemakaian kata kerja aktif. Kata kerja pasif dipakai seandainya benar-benar tidak bisa dihindari atau bertujuan menekankan subyek berita agar lebih menarik perhatian pembaca.
·        Terjemahkan kata dan istilah asing.
·        Gunakan detail spesifik daripada kata sifat.
·        Manfaatkan kekuatan diksi untuk proses risk-taking writing  dan style baru agar tidak terjebak dalam penulisan yang pas-pas an.


BAB IV
CERMATI BAHASA

            Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa mencerminkan tidak hanya identitas pemakainya, tetapi juga mewakili kemampun, pola pikir, serta etika pemakainya. Dari sebuah tulisan cukup bisa ditebak apa dan bagaimana penulisannya. Cara media massa menyampaikan beritanya juga tidak semata mewakili kemampuan wartawannya, tetapi juga menunjukkan kelasnya.
            Bahasa dalam tulisan resmi yang dipublikasikan untuk konsumsi umum dan di media massa seharusnya merujuk pada bahasa baku, yaitu bahasa resmi sesuai ketentuan tata bahasa dan pedoman ejaan yang disempurnakan, serta pedoman pembentukan istilah yang menyertainya. Pedoman tersebut terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indoneia (KBBI).

A.    PENULISAN KATA
1.      Kata berimbuhan (yang mendapatkan awalan, sisipan, akhiran)
·        Awalan me- + konsonan berawalan k, p, t, s menjadi luluh.
·        Awalan me- + konsonan ganda (konsonan-konsonan-vokal) tidak luluh.
·        Di-, ke- apabila diikuti kata kerja digabung dengan kata yang mengikutinya, tetapi dipisah jika diikuti kata benda maupun keterangan tempat.
2.      Kata ulang, ditulis lengkap dengan tanda hubung.
3.      Gabungan kata/majemuk bagian-bagiannya ditulis terpisah.
4.      Gabungan kata yang dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
5.      Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri ditulis serangkai dengan unsur lainnya.
6.      Jika bentuk tersebut (poin 5) diikuti kata berhuruf awal kapital, maka di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
7.      Khusus untuk kata “serba” tidak digabung bila dianggap sebagai kata ulang (serba-serbi) dan menghadapi konjungi, preposisi, partikel.
8.      Kecuali untuk “Maha Esa” , “maha” dan “peri” jika diikuti kata berimbuhan ditulis terpisah.
9.      Partikel pun yang berarti ‘juga’ ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, tetapi aturan ini tidak berlaku pada kelompok padu, seperti adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.
10. Partikel per yang berarti ‘mulai, demi, tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendampinginya.

B.     PENULISAN HURUF KAPITAL
1.      Huruf pertama pada awal kata sebuah kalimat.
2.      Huruf pertama dalam kalimat petikan langsung.
3.      Huruf pertama ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan.
4.      Huruf pertama nama jabatan atau gelar yang diikuti nama orang atau nama instansi/lembaga/organisasi.
5.      Kata-kata van, den, da, de, bin, ar, ibnu yang digunakan sebagai nama orang tetap ditulis dengan huruf kecil, kecuali sebagai nama pertama.
6.      Huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa kecuali nama tersebut mendapatkan imbuhan.
7.      Huruf pertama nama hari, bulan, tahun, peristiwa bersejarah, dan kegiatan.
8.      Huruf pertama nama geografi, kecuali yang berarti  ‘jenis’
9.      Huruf pertama nama resmi badan dan nama dokumen.
10. Huruf pertama istilah kekerabatan (bapak, ibu, saudara, kakak, adik, termasuk, Anda) sebagai kata ganti sapaan.

C.     PENULISAN HURUF KURSIF
1.      Nama buku, media massa, dan kantor berita.
2.      Judul karangan, nama rubrik, nama acara/program televisi, judul lagu dan film.
3.      Nama ilmiah, istilah asing, dan bahasa Indonesia belum baku.
4.      Penekanan pada kata atau kalimat yang dipentingkan.
5.      Tuturan langsung
6.      Singkatan dalam bahasa asing, kecuali nama lembaga.

D.    TANDA BACA
1.      Penulisan Tanda Titik (.)
2.      Penulisan Tanda Koma (,)
3.      Penulisan Tanda Petik Ganda (“…..”)
4.      Penulisan Tanda Petik Tunggal (‘…..’)
5.      Penulisan Tanda Hubung (-)
6.      Penulisan Tanda Pisah (-)

E.     KATA TRANSISI
Kata-kata transisi berfungsi sebagai “jalan tengah” dari polarisasi repetisi dan kata ganti. Bila repitisi menghendaki pengulangan kata-kata kunci dan kata ganti tidak menghendaki pengulangan sebuah kata, maka kata transisi menempuh jalan tengah dengan menghadirkan kata atau frasa transisi sebagai penghubung atau katalisator antara satu preposisi dan preposisi lainnya.

F.      GAYA SELINGKUNG
Sebuah pilihan kata kadang tidak sesuai dengan aturan dalam pedoman bahasa Indonesia, tetapi para ahli bahasa pun tidak berwenang menyalahkannya karena, sebagaimana disinggung pada awal bab ini, faktor keberterimaannya oleh masyarakat luas.

G.    BEBERAPA KASUS
Beberapa kasus yang sering mucul, diantaranya berkaitan dengan:
1.      Pasangan Kata
2.      Bentuk Bersaing
3.      Bentuk Jamak dan Bentuk Tunggal
4.      Penyebutan/ Penulisan Nama
5.      Penulian Singkatan & Akronim
6.      Penulian Nama Tempat
7.      Kata Mubazir
8.      Kesalahan Penempatan Kata Transisi


BAB V
BERITA DAN ROHNYA

      Berita (news) menjadi ranah tidak hanya orang-orang yang sehari-hari beraktivitas di perusahaan pers. Karena keinginan untuk mempublikasikan aktivitasnya dan kepentingan berinteraksi yang komunikatif, berita juga menjadi urusan anggota masyarakat.
      Dari berbagai literatur jurnalisme bisa didapatkan beragam definisi tentang berita, tetapi tidak ada batasan verbalnya yang absolute. Begitu pula dengan informasi (information). Kadang informasi bisa menjadi  berita, tetapi tidak semua informasi menjadi berita.

A.    UNSUR PENTING
Jelas informasi yang Anda dapatkan dari bagian informasi tersebut bukan berita. Namun, informasi lalu lintas atau jalan tol yang Anda dengarkan di mobil dalam perjalanan menuju kantor, bagaimanapun, merupakan berita karena dalam informasi itu terdapat aktualitas (actuality), salah satu unsur penting beita. Tidak hanya untuk Anda seorang, tetapi juga aktual untuk yang lainnya.
Tidak jarang berita peristiwa yang memiliki unsur human interest tinggi biasanya ditindaklanjuti dengan feature. Namun, ia bisa juga langsung disajikan dalam bentuk feature. Semua tergantung pada berbagai pertimbangan dan kebijakan redaksional media yang bersangkutan.

B.     DAYA TARIK
Berbagai teori jurnalisme merangkum, secara garis besar berita dikatakan menarik apabila mampu memengaruhi tidak hanya emosi pembacanya, tetapi juga bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dengan kata lain, pembaca merasa dilibatkan meskipun tidak terlibat langsung dalam berita.
Yang tidak kalah penting, seperti yang berlaku pada kebijakan redaksional dan menjadi bahan debat sengit di war room- ruang perang adu argument saat rapat redaksi-adalah kelayakan berita layak dipublikasikan atau naik cetak. Selain aktual, pada umumnya berita dinyatakan layak publikasi bila mampu memenuhi beberapa kriteria pembobotan, seperti:
·        Kedekatan (Proximity)
·        Daya Tarik (Magnitude)
·        Mengunggah Rasa Kemanusiaan (Human Interest)
·        Konflik dan Peristiwa di Luar Kebiasaan/Luar Biasa (Conflict and Unusual Event)
·        Orang-orang Ternama dan Selebritis Lokal (Local Top People and Celebrity)
·        Dampak Pemberitaan (Impact of News Event)

C.     TEKNIK PELIPUTAN DAN PENULISAN
Beberapa cara bisa ditempuh untuk lebih menjamin sebuah berita mampu membuat pembaca paham dan peduli, di antaranya, mengobservasi sumber berita, menghimpun detail peristiwa, mengajukkan beberapa pertanyaan kepada narasumber yang kredibel, serta yang terpenting be curious (selalu ingin tahu) segala hal seputar obyek liputan. Untuk menguatkan jurus membawa pembaca serasa di lokasi kejadian, foto dan/atau grafik, serta infografik memiliki peranan vital melengkapi berita.
Beberapa alternatif langkah berikut ini bisa ditempuh dalam menulis berita bermuatan seperti yang telah dipaparkan:
·        Pastikan berita yang bersangkutan memang dibutuhkan dan lebih mengutamakan kepentingan publik atau pembaca.
·        Pastikan unsur 5W dan 1H sudah dimiliki.
·        Hindari rasa percaya diri yang berlebihan atas hal-hal penting dalam berita, seperti nama orang, tempat, dan sebagainya saat meliputi dan wawancara.
·        Pastikan pula dalam outline mengutamakan prinsip liputan berimbang.
·        Judul berita harus memiliki subyek.
·        Teknik dasar penulisan berita umumnya memakai mekanisme upside down (dari yang terpenting ke yang kurang penting) atau lazim juga disebut dengan skema piramida terbalik.
·        Lead yang lugas sebaiknya tidak dimulai dengan kata sambung jika, walaupun, meskipun, dan sebagainya karena tidak ada kalimat yang mendahuluinya.
·        Lead juga sebaiknya tidak dimulai dengan kalimat bertingkat yang ditandai dengan pemakaian kata bahwa serta diupayakan selalu dalam kalimat aktif. Kalimat pasif dipakai hanya untuk menegaskan subyek berita.
·        Sebaiknya pula yang dipakai dalam lead adalah penulisan bahasa tulis, bukan bahasa berita lisan. Pilihan terhadap penulisan ini ada pada kebijakan redaksional media massa yang berangkutan.
·        Sebisanya dihindari pemakaian kata yang sama dua kali atau lebih dalam satu kalimat. Kata ganti atau atribut bisa dipakai untuk kata yang harus diulang.
·        Hindari redundancy alias pemborosan kata.
·        Akronim yang muncul beberapa kali dalam badan berita ditulis saat kali pertama muncul.
·        Jabatan ditulis di depan nama subyek atau sumber berita, kecuali yang bersangkutan sudah dikenal luas. Jabatan di depan nama ditulis kapital dan huruf kecil apabila berfungsi sebagai keterangan atau penjelas di antara dua tanda koma. Jabatan ditulis di depan tidak diikuti koma.
·        Perhatikan penulisan bilangan.
·        Hindari penulisan kata atau istilah teknis tanpa penjelasan.


BAB VI
MENYELAMI FEATURE

Lingkungan sekitar serta bentang alam nan luas ibarat buku tanpa batas. Banyak fenomena dan peristiwa bisa dibaca darinya sekaligus sebagai bahan yang tiada habis ditulis. Terserah cara seseorang menyikapinya: apakah fenomena dan peristiwa tertentu menarik tidak hanya untuk menurut persepsinya, tetapi juga bagi orang lain.
Jika pilihan kedua yang diambil, seseorang lebih tepat menuliskannya dalam bentuk feature atau berita kisah dengan tetap mengacu pada prinsip dasar 5W dan 1H dalam berita. Jika berita lempang menempatkannya dalam paragraf-paragraf awal, maka pada penulisan feature penempatannya tidak kaku dan bisa tersebar dalam keseluruhan badan berita.

A.    UNSUR PENTING
Dalam bukunya, FeaturE Writing for Newspapaers (New York: Hasting House Publishing, 1975), Daniel R. Williamson menabalkan batasan feature sebagai “kisah yang kreatif, kadang subyektif, yang sengaja di desain untuk menghibur serta menginformasikan sebuah peristiwa, situasi, ata aspek kehidupan”.
Feature lebih bertumpu pada persepsi subyektif dan kreativitas wartawan atau penulis dalam merekonstruksi fenomena atau peristiwa yang diperkuat oleh fakta-fakta maupun riset yang mendukungnya. Subyektif dalam arti cara wartawan atau penulis menerapkan sudut pandang maupun penilaian terhadap sebuah fenomena atau peristiwa.

B.     STRUKTUR DAN TEKNIK PENULISAN
1.      Penjudulan
·        Penjudulan dari Titik Pandang
·        Penjudulan Bertanya
·        Penjudulan Berdasarkan Cara
·        Penjudulan dari Unsur 5W+1H
·        Penjudulan dengan Ter-
1.      Penulisan Lead
·        Lead Rangkuman (Summary)
·        Lead Bercerita (Narrative)
·        Lead Paparan (Descriptive)
·        Lead Informasi (Informative)
·        Lead Generalisasi (Generalization)
·        Lead Perbandingan (Comparison)
·        Lead Ruang (Compound)
·        Lead Pemikat (Teaser)
·        Lead Teka-Teki (Puzzle)
·        Lead Kutipan (Quote)
·        Bentuk-bentuk Lead lainnya juga masih memungkinkan dipakai, seperti lead kejutan (surprise), lead dengan pertanyaan yang mengejutkan (surprising question), lead seni (art), lead humor, serta lead tunjuk langsung (appoint directly). Pemakaiannya tergantung pada tuntutan tema.
2.      Penulisan Tubuh
Tubuh feature berfungsi tidak hanya menjelaskan lebih lanjut atas tema yang dicerminkan lewat judul dan lead sebagai pembuka, tetapi juga harus bisa menjaga emosi pembaca agar tidak cepat bosan dan berhenti membacanya. Ingat, kekuatan pembeda  feature dengan berita lempang adalah kemampuannya memengaruhi emosi pembaca.
3.      Penulisan Penutup
Penutup lebih merupakan sebuah rangkuman atas inventarisasi fakta-fakta yang mendukung tema feature. Wartawan atau penulis bisa pula menyajikan fakta-fakta baru dalam penutup ini untuk lebih menguatkan tujuan penulisan feature. Oleh karena itu, wartawan atau penulis juga dituntut mampu menghasilkan kalimat-kalimat yang berpengaruh kuat dalam penutupnya.


BAB VII
MENJAWAB TANTANGAN ‘OPINI’

A.    KARAKTER DAN IDEOLOGI MEDIA
Memahami karakter dan ideologi media massa bisa dilakukan dengan analisis bentuk fisik, muatan atau isi, serta pemakaian gaya bahasanya. Yang tidak kalah penting adalah memastikan apakah media yang dituju menyediakan ruang liputan atau rubrikasi untuk liputan maupun tulisan seperti tema artikel opini si penulis.

B.     SYARAT DAN KETENTUAN PEMUATAN
Syarat dan ketentuan tersebut, di antaranya, menyangkut tema, tulisan, penyajian, rambu-rambu berkaitan dengan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) maupun kesusilaan, serta teknik penulisan naskah yang meliputi panjang tulisan (jumlah kata) dan teknik pengetikan (kadang menentukan jenis font dan penspasian), khususnya untuk artikel yang dikirimkan ke media cetak.

C.     TEMA TULISAN
Misalnya, tentang fenomena kekerasan oleh anak-anak sebagai dampak tayangan televisi, di beberapa wilayah masih terjadi praktik nyontek saat ujian nasional, teror bom, perekrutan mahasiswa oleh orang-orang yang diduga sebagai aktivis Negara Islam Indonesia (NII), soal naturalisasi pemain sepak bola asing, gejolak politik di Timur Tengah, dampak ekonomi pasca-tsunami di Jepang, artis porno asing yang semakin banyak bermain di film-film nasioanal, dan sebagainya.

D.    TEKNIK PENULISAN
·        Pengulangan Deskriptif
·        Penalaran atas “Mengapa”
·        Konsistensi
·        Perbandingan
·        Bingkai Sosial
·        Agitasi
·        Prediksi
·        Solusi

1 komentar: