Aku tidak pernah menginginkan semuanya
terjadi seperti ini. Walau terkadang kau buatku menangis dan jengkel. Ternyata
yang terjadi hanya kepalsuan yang kau berikan padaku. Sekarang kau pergi dariku
meninggalkan sejuta luka dan perih yang sangat mendalam di hatiku.
Tapi, apalah dayaku. Semuanya sudah
ditakdirkan oleh Sang Maha Pencipta.
Kisah ini berawal saat aku duduk di
kelas XI SMA. Awalnya aku kenal dia saat aku berada di rumah temanku. Pada waktu
itu aku dan dia hanya berteman. Tapi, seiring berjalannya waktu, hubungan kami semakin
akrab. Jujur saja, aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Sudah 1 bulan hari-hari
kulewati bersama Dian. Namun sepertinya aku mulai ada rasa padanya. Disetiap
apapun yang aku lakukan aku selalu mengingatnya. Oh Tuhan, apakah ini yang
dinamakan CINTA? “ucapku dalam hati”. Sepetinya aku mulai menyukai Dian, sosok
lelaki yang tinggi dan tampan itu selalu menghantui pikiranku dan membuatku
gelisah tak menentu. Tapi, apakah perasaan Dian juga sama seperti perasaanku? Akupun tak tau ingin rasanya aku mengungkapkan
rasa ini. Namun, aku malu dan gengsi karena aku seorang perempuan jadi tidak mungkin aku mengungkapkan
perasaanku terlebih dahulu. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu dan selalu
berdo’a. Semoga saja suatu saat nanti, Dian juga memiliki perasaan sama seperti
yang aku rasakan.
Malam hari, ketika aku sedang duduk
santai di kamar sambil memikirkannya, tiba-tiba terdengar bunyi bel di pintu
rumahku, lalu aku segera keluar untuk
membuka pintu. Dengan kagetnya ketika aku membuka pintu waktu itu ternyata yang
datang adalah Dian. Aku sangat senang sekali waktu itu seperti bunyi pepatah
“pucuk dicinta ulam pun tiba” “ucapku dalam hati waktu itu”. Lalu aku mempersilahkan
Dian duduk di teras rumahku, karena saat itu Ayah dan Ibu tidak ada di rumah,
jadi aku dan Dian hanya berbincang-bincang di teras rumah.
Dian : “ Hai Anggi, selamat malam, maaf ya aku
tidak mengabari kamu dulu kalau aku mau ke rumah kamu” (sambil tersenyum
lebar).
Anggi : “Em eh iya Dian tidak apa-apa”
(sedikit salah tingkah).
Dian
: “ngomong-ngomong aku ganggu
kamu ya?”.
Anggi : “tidak Dian, aku ke dalam dulu ya mau bikin minum, tunggu sebentar!
Silahkan
duduk!
(sambil berjalan menuju dapur).
Tidak
lama kemudian sekitar hampir 5 menit Dian menunggu, tiba-tiba Anggi datang
menghampirinya dengan membawa dua cangkir minuman dan satu kaleng kue kering.
Anggi
:“silahkan diminum dulu Dian, kamu pasti haus kan?”.
Dian : “hehe tidak juga gi, maaf ya ngerepotin jadinya”
(sambil mengambil minuman).
Anggi
: tidak merepotkan Dian, ngomong-ngomong ada apa ya kamu kesini
tumben sekali” (dengan wajah
heran).
Dian : “ada yang mau aku omongin sama kamu gi”
(dengan wajah serius).
Anggi
: “ ngomong apa Dian kelihatannya serius banget”.
Dian : “sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu
gi, sewaktu kelas X dulu, tapi aku
takut bilang ke kamu, aku takut kamu menolak
aku”.
Anggi
: “ah kamu bercanda kan Dian ?”.
Dian : “aku serius Anggi, jujur sudah lama aku
memendam perasaan ini ke kamu. Tapi baru
sekarang aku berani
mengungkapkannya. Apakah kamu memiliki perasaan yang
sama denganku Anggi ?”.
Anggi
: “bagaimana ya, aku harus jawab apa ?”.
Dian : “jawab jujur saja gi, apa saja jawaban
kamu aku pasti terima, meskipun kamu
menolak aku, aku tidak apa-apa gi yang penting
kamu jujur, setidaknya aku sudah
berusaha”.
Anggi
: “sebenarnya…. Aku juga sudah lama sayang sama kamu Dian, tapi aku malu untuk
bilang
ke kamu karena aku gengsi dan aku seorang perempuan jadi tidak mungkin
kan aku
yang ngomong duluan”.
Dian : “kamu serius gi? Kamu menerima aku?”.
Anggi
: “iya Dian aku nerima kamu, karena aku juga suka sama kamu” (dengan wajah
menunduk).
Dian : “hehe syukur deh, aku senang sekali
dengarnya Anggi , ini ada sesuatu buat kamu”
(sambil mengambil sebatang coklat
dan setangkai mawar).
Anggi : “ ternyata kamu romantis juga ya Dian”
Dian :
“biasa saja Anggi ini memang sudah seharusnya aku buktikan ke kamu kalau aku
benar-benar sayang sama kamu, dan ini hanya permulaan
nanti kamu juga akan,
tau kalau aku ini laki-laki paling romantis
sedunia, hehehe”.
Anggi
: “kamu ini bisa saja Dian”.
Dian : “aku serius gi. Poknya aku janji sama kamu
aku tidak akan menyakiti kamu dan
mengecewakan
kamu, aku serius sama kamu. Akan kujadikan kamu
wanita
paling bahagia di dunia ini. Jadi tanggal kita jadian Tanggal 26 Desember
2012
kan, akan selalu ku ingat hari jadi kita itu Anggi”.
Anggi
: “hmmm semoga saja perkataanmu itu benar Dian. Ngomong-ngomong ini sudah jam
berapa? Aku tidak enak sama tetangga
nanti takutnya mereka berpikir macam-
macam, apalagi aku sendirian di
rumah”.
Dian : “iya Anggi ini aku mau pulang juga, sampai
bertemu besok di sekolah ya !” (sambil
bersiap untuk pulang).
Anggi
: “iya, hati-hati di jalan ya! Jangan ngebut-ngebut sampai ketemu besok juga”.
Betapa
senangnya aku malam itu, tak sia-sia penantian dan do’a ku selama ini. Aku
benar-benar tak menyangka hal ini terjadi. Apalagi Dian nembak aku secara
langsung bukan lewat SMS, telpon, facebook atau sosmed lainnya, dan romantisnya
lagi dia memberikan aku coklat sama bunga. Sungguh senangnya aku dan beruntung
bisa punya pacar setampan dan sekeren Dian .
Tidak
lama kemudian waktu sudah menunjukan tepat pukul 22.00, dan aku segera cuci
muka dan masuk kamar untuk segera tidur. “ya Allah semoga saja malam ini aku
mimpi Dian hehehe” ucapku dalam hati. Dan tidak lupa aku menaruh mawar yang
diberikan Dian di samping bantal tidur ku.
Kreeng…..kreeeeng…kreeng
bel berbunyi, itu tandanya semua siswa-siswi SMAN 9 waktunya masuk kelas dan
bersiap mengikuti pelajaran.
Aku
seperti mempunyai semangat baru untuk pergi ke sekolah setiap harinya, Dian lah
yang membuat aku semangat. Apalagi setiap harinya aku di antar dan di jemput
oleh Dian, mengerjakan tugas sama-sama meskipun aku dan Dian beda kelas, tetapi
mata pelajaran kami sama, bedanya hanya Dian duduk di kelas XI IPS 2 dan aku duduk
di kelas XI IPS 1. Hari-hari kulewati dengan indah bersamanya, dia selalu ada
untukku saat aku memerlukannya dan selalu membantuku setiap aku ada masalah.
Tak
terasa 3 bulan lamanya aku pacaran dengan Dian, tepatnya tanggal 26 Maret aku
dan Dian merayakan hari jadi kami, seperti bulan-bulan sebelumnya juga, Dian
selalu memberikan aku kado dan setangkai mawar. Tapi firasat ku berkata lain,
aku merasa malam itu Dian beda denganku, dia dingin dan sedikit cuek, tak
banyak bicara ditanya saja dia hanya menjawab seperlunya.
Malam
itu Dian datang menjemputku untuk pergi ke sebuah cafe, dalam perjalanan dia
hanya diam tak sepatah kata pun dia berbicara padaku, tak seperti biasanya.
Ketika sampai di sebuah cafe kami mencari tempat duduk dan memesan makanan.
Lalu aku bertanya dengan Dian tentang kondisinya, mungkin saja dia lagi sakit
“ucapku dalam hati”.
Anggi
: “kamu kenapa? kamu sakit ya ?”.
Dian : “tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit
cape saja”(dengan wajah sinis).
Anggi
: “oh, aku kira kamu sakit, kamu kenapa sih malam ini kayanya beda banget sama
aku”.
Dian : “aku tidak apa-apa, kenapa sih kamu bawel banget”
(dengan nada kasar).
Anggi
: “kenapa kamu kasar sama aku, aku kan cuma tanya, aku takut kalau kamu kenapa-
kenapa” (sedikit membentak).
Dian : “maaf sayang, aku tidak bermaksud kasar sama
kamu, aku minta maaf ya” (sambil
memandang wajah Anggi).
Anggi
: “iya tidak apa-apa” (menjawab dengan cuek).
Setelah
aku ngobrol-ngobrol dan sudah menghabiskan makanan yang ada di atas meja.
Akupun meminta Dian untuk mengantarkan aku
pulang, karena waktu sudah menunjukan pukul 21.00. Dan Dian pun langsung segera
menuruti perintahku, karena Dian tau kalau keluar malam, aku tidak boleh pulang
lewat dari jam 9 malam.
**
Tak
terasa hari berganti hari minggu berganti minggu dan sikap Dian ke aku semakin
berubah. Dia sudah semakin jarang menghubungiku meskipun hanya sekedar SMS
singkat dan ucapan selamat pagi, sudah sangat jarang kudapat darinya. Setiap ku
telpon selalu saja alasannya sibuklah, inilah, itulah poknya seribu alasan deh.
Dan setiap ku sms pun dia jarang balas, dan juga kalau dia balas pun pasti
lama. Dia sudah tidak ada waktu lagi buat aku, setiap aku perlu bantuannya dia
selalu saja tidak bisa, dia makin menjauh dariku. Aku tak tau apa salah ku
padanya, padahal selama ini aku benar-benar tulus sayang sama dia, tapi entah
mengapa dia berubah seperti ini. Aku mencoba sabar dan tidak terlalu memikirkan
hal ini. Aku cuma bisa berdo’a semoga apa saja yang terjadi nanti merupakan
yang terbaik yang di berikan Tuhan untukku dan juga untuk Dian. Seperti kata
Mario Teguh “Rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan, sehingga jika yang
sedang kau alami sekarang belum baik, berarti itu bukan akhir, maka bertahanlah”.
Tepat
tanggal 20 April, tiba-tiba saja Dian nelpon aku minta ketemuan. Katanya dia
mau membicarakan hal penting. Setelah hampir satu minggu lebih dia sering
menghilang dan jarang memberi kabar ke aku, jangankan untuk bertemu ditelpon saja selalu
alasannya sibuk. Entah apa yang ada dipikarnnya saat ini jadi tiba-tiba saja
dia nelpon aku dan memintaku untuk bertemu dengannya. Tapi aku mencoba
berpikiran baik saja tentangnya mungkin saja dia mau minta maaf karena sikapnya akhir-akhir ini denganku. Aku bersiap-siap untuk menemuinya.
**
Waktu
sudah menunjukan pukul 16.00 aku sudah sampai di sebuah taman untuk menemui
Dian, ternyata Dian sudah menungguku lebih dulu.
Anggi
: “maaf telat, kamu sudah lama ya? (dengan tergesa-gesa).
Dian : “tidak apa-apa Anggi, aku baru saja sampai
juga”.
Anggi
: “ngomong-ngomong ada apa ya Dian kamu memintaku kesini, tumben kan akhir-
akhir ini kamu sibuk.”(dengan nada sedikit
sinis).
Dian
: “ada yang perlu aku omongin sama kamu Anggi, mungkin ini menyakitkan”.
Ketika
mendengar perkataan Dian tersebut jantungku berdetak kencang seperti pertama
kali dia nembak aku 3 bulan yang lalu. Tapi detakan jantung saat ini bukan
detakan bahagia melainkan detakan jantung kekecewaan dan rasa yang teramat
sakit. “Ya Tuhan mungkinkah ini jawaban dari do’a-do’a ku selama ini,
mungkinkah aku harus melepaskan orang
yang aku sayangi selama ini”, ucapku dalam hati. Karena aku sudah curiga dengan
ucapan Dian tersebut, aku yakin Dian mau mengakhiri semuanya.
Anggi
: “iya Dian, aku tidak apa-apa, kamu mau ngomong apa. Kamu tenang saja aku siap
apa saja yang ini kamu katakan” (dengan wajah
seolah-olah tegar).
Dian : “maafkan aku sebelumnya Anggi, sebenarnya
aku sayang sama kamu tapi aku tidak
mau menyakiti kamu Anggi, mungkin lebih baik
aku jujur sama kamu, dan lebih
baik
aku mengatakannya sekarang kalau nanti-nanti aku takut malah tambah
menyakitkan”.
Anggi
: “aku paham maksud kamu Dian, kamu ingin mengakhiri semuanya kan, ingin
mengakhiri
hubungan kita”.
Dian
: “maafkan aku Anggi, aku tergoda oleh wanita lain, dan dia itu adalah mantanku
dulu
sewaktu
aku duduk di kelas IX SMP, aku mencoba tetap ingin bertahan denganmu
tapi nyatanya aku tak bisa membohongi
perasaanku sendiri Anggi, rasa itu sudah tak
ada lagi
untukmu maafkan aku Anggi”.
Anggi
: “(terdiam menunduk)”.
Dian : “aku tau ini memang menyakitkan, tapi aku bingung, aku tak bisa membohongi
perasaanku
sama kamu gi. Makanya akhir-akhir ini aku mencoba untuk sendiri dan
berpikir, tapi mungkin ini
keputusan yang terbaik untukmu dan aku. Rasa yang
sempat hilang waktu dulu, kini
datang kembali kepada mantanku dulu gi. Sekali lagi
aku minta maaf Anggi, mungkin
kejujuranku ini membuatmu sakit”.
Anggi
: “iya Dian, aku sudah memaafkan kamu, kamu tenang saja, mungkin memang dia
yang terbaik buat kamu, aku tidak apa-apa”.
Dian : “terimakasih Anggi, kamu memang selalu mengerti
aku selain mantan terbaik kamu
juga sahabat terbaik aku”.
Anggi
: “sama-sama Dian, ngomong-ngomong aku mau pulang dulu ya sudah sore” (sambil
bergegas untuk pulang).
Dian : “tunggu sebentar gi, ada yang mau aku
kasih sama kamu, anggap saja ini kenang-
kenangan dari aku” (sambil
mengambil sebuah kado dari dalam tas).
Anggi
: “apa ini Dian, tak usah repot-repot lagi pula kamu sudah banyak memberi aku
kado”.
Dian : “aku mohon Anggi, terimalah pemberianku
ini”.
Anggi
: “hmmm, ya sudahlah aku terima, makasih ya kadonya. Aku mau pulang dulu nanti
keburu magrib” (bergegas untuk pulang).
Dian : “iya Anggi, hati-hati di jalan ya, kalau
ada apa-apa segera telpon aku”.
Anggi
: “iya, makasih kamu juga hati-hati”.
**
Malam itu cuaca sangatlah dingin
sampai-sampai angin malam itu terasa menusuk ke tulang . Aku yang tadinya duduk
di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat dan ditemani sebuah lagu
pop yang lagi tenar-tenarnya saat itu yang berjudul “masih mencintaimu” yang
dibawakan oleh PAPINKA band yang berasal dari Indonesia ini mampu membuatku
terbawa kedalam perasaan sedih mendalam. Lagu ini sangatlah menyentuh dan
bagiku lagu ini sangat mewakili perasaan yang kualami saat ini, akupun hampir
meneteskan air mata ketika mendengarnya tapi aku mencoba tegar dan berusaha
tidak mengingat lelaki yang telah menyakitiku dan meninggalkanku itu.
Akupun masuk ke dalam rumah dan menuju
kamar untuk berbaring sejenak dan melepaskan lelah yang ada di tubuhku ini,
entah lelah kenapa akupun tak tau, yang pastinya aku hanya ingin berbaring di
kasurku dan memutar lagu-lagu yang mewakili perasaanku. Kini aku terpuruk lemah
oleh kenyataan yang menyakitkan itu. Dan akupun mencoba untuk tidak
mengaktifkan ponselku selama satu minggu dan menonaktifkan semua akun sosial
media karena aku ingin melupakannya dan tidak ingin tau tentangnya lagi.
Tiba-tiba saja aku teringat kado yang
dikasih Dian tadi sore denganku, lalu akupun membukanya dan ternyata isinya
adalah sebuah boneka Panda yang lucu, “mungkin ini kado terakhir yang diberikan
Dian untukku” ucapku dalam hati.
Akupun tak kuat lagi menahan air mata
yang hampir jatuh di pelupuk mataku ini.
Lalu akupun menangis sepuas-puasnya
untuk mengeluarkan semuanya yang ada di dalam pikiranku saat itu, air mata itu
seolah-olah mewakili perasaanku yang tak mampu diucapkan oleh bibir.
Lelaki yang selama ini aku banggakan
yang aku sayangi dengan tulus tak kusangka dia lebih memilih wanita lain, entah
apa yang dilihatnya dari wanita itu sampa-sampai dia meninggalkanku. Hampir 4
bulan aku bersamanya, suka duka selalu dengannya dan ternyata semua itu hanyalah tinggal
kenangan yang tersisa. “oh Tuhan kuatkan aku”.
Hujan pun turun dengan derasnya pada
malam itu seakan-akan langit pada saat itu ikut berduka. Kini hanya tinggal
kenangan manis saat bersamamu. Kesedihan yang tak kunjung usai telah
menyelimutiku saat itu. Teringat akan kenangan yang dulu pernah buatku bahagia,
tapi kini semua tinggal kenangan. Tak ada lagi canda tawa. Sekarang aku hanya
sendiri melewati hari-hari tanpamu. Mencoba membiasakan diri untuk
melewati hari dengan segala keadaan. Adakah kau merasakan perasaan yang sama
dengan perasaanku saat ini Dian? Namun kuyakini bahwa kamu adalah memori tak
terlupakan. Terimakasih cinta dan sayang yang pernah kau titipkan padaku.Tapi
aku yakin bahwa aku bisa melupakanmu meskipun kau sempat membuat semangat
hidupku redup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar