Jumat, 04 Maret 2016

Cerpen (Tinggal Kenangan)


Aku tidak pernah menginginkan semuanya terjadi seperti ini. Walau terkadang kau buatku menangis dan jengkel. Ternyata yang terjadi hanya kepalsuan yang kau berikan padaku. Sekarang kau pergi dariku meninggalkan sejuta luka dan perih yang sangat mendalam di hatiku.
Tapi, apalah dayaku. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Pencipta.
Kisah ini berawal saat aku duduk di kelas XI SMA. Awalnya aku kenal dia saat aku berada di rumah temanku. Pada waktu itu aku dan dia hanya berteman. Tapi, seiring berjalannya waktu, hubungan kami semakin akrab. Jujur saja, aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Sudah 1 bulan hari-hari kulewati bersama Dian. Namun sepertinya aku mulai ada rasa padanya. Disetiap apapun yang aku lakukan aku selalu mengingatnya. Oh Tuhan, apakah ini yang dinamakan CINTA? “ucapku dalam hati”. Sepetinya aku mulai menyukai Dian, sosok lelaki yang tinggi dan tampan itu selalu menghantui pikiranku dan membuatku gelisah tak menentu. Tapi, apakah perasaan Dian juga sama seperti perasaanku?  Akupun tak tau ingin rasanya aku mengungkapkan rasa ini. Namun, aku malu dan gengsi karena aku seorang perempuan  jadi tidak mungkin aku mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu dan selalu berdo’a. Semoga saja suatu saat nanti, Dian juga memiliki perasaan sama seperti yang aku rasakan.
Malam hari, ketika aku sedang duduk santai di kamar sambil memikirkannya, tiba-tiba terdengar bunyi bel di pintu rumahku, lalu aku  segera keluar untuk membuka pintu. Dengan kagetnya ketika aku membuka pintu waktu itu ternyata yang datang adalah Dian. Aku sangat senang sekali waktu itu seperti bunyi pepatah “pucuk dicinta ulam pun tiba” “ucapku dalam hati waktu itu”. Lalu aku mempersilahkan Dian duduk di teras rumahku, karena saat itu Ayah dan Ibu tidak ada di rumah, jadi aku dan Dian hanya berbincang-bincang di teras rumah.
Dian  : Hai Anggi, selamat malam, maaf ya aku tidak mengabari kamu dulu kalau aku mau ke rumah kamu” (sambil tersenyum lebar).
Anggi : “Em eh iya Dian tidak apa-apa” (sedikit salah tingkah).
Dian   : “ngomong-ngomong aku ganggu kamu ya?”.
Anggi : “tidak Dian, aku ke dalam dulu ya mau bikin minum, tunggu sebentar! Silahkan
               duduk! (sambil berjalan menuju dapur).

Tidak lama kemudian sekitar hampir 5 menit Dian menunggu, tiba-tiba Anggi datang menghampirinya dengan membawa dua cangkir minuman dan satu kaleng kue kering.

Anggi :“silahkan diminum dulu Dian, kamu pasti haus kan?”.
Dian   : “hehe tidak juga gi, maaf ya ngerepotin jadinya” (sambil mengambil minuman).
Anggi : tidak merepotkan Dian, ngomong-ngomong ada apa ya kamu kesini
             tumben sekali” (dengan wajah heran).
Dian   : “ada yang mau aku omongin sama kamu gi” (dengan wajah serius).
Anggi : “ ngomong apa Dian kelihatannya serius banget”.
Dian   : “sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu gi, sewaktu kelas X dulu, tapi aku
             takut bilang ke kamu, aku takut kamu menolak aku”.
Anggi : “ah kamu bercanda kan Dian ?”.
Dian   : “aku serius Anggi, jujur sudah lama aku memendam perasaan ini ke kamu. Tapi baru
            sekarang aku berani mengungkapkannya. Apakah kamu memiliki perasaan yang
            sama denganku Anggi ?”.
Anggi : “bagaimana ya, aku harus jawab apa ?”.
Dian   : “jawab jujur saja gi, apa saja jawaban kamu aku pasti terima, meskipun kamu
               menolak aku, aku tidak apa-apa gi yang penting kamu jujur, setidaknya aku sudah
               berusaha”.
Anggi : “sebenarnya…. Aku juga sudah lama sayang sama kamu Dian, tapi aku malu untuk
               bilang ke kamu karena aku gengsi dan aku seorang perempuan jadi tidak mungkin
               kan aku yang ngomong duluan”.
Dian   : “kamu serius gi? Kamu menerima aku?”.
Anggi : “iya Dian aku nerima kamu, karena aku juga suka sama kamu” (dengan wajah
               menunduk).
Dian   : “hehe syukur deh, aku senang sekali dengarnya Anggi , ini ada sesuatu buat kamu”
             (sambil mengambil sebatang coklat dan setangkai mawar).
 Anggi : “ ternyata kamu romantis juga ya Dian”
  Dian   : “biasa saja Anggi ini memang sudah seharusnya aku buktikan ke kamu kalau aku
                 benar-benar sayang sama kamu, dan ini hanya permulaan nanti kamu juga akan,
                 tau kalau aku ini laki-laki paling romantis sedunia, hehehe”.
Anggi : “kamu ini bisa saja Dian”.
Dian   : “aku serius gi. Poknya aku janji sama kamu aku tidak akan menyakiti kamu dan
               mengecewakan kamu, aku serius sama kamu. Akan kujadikan kamu
               wanita paling bahagia di dunia ini. Jadi tanggal kita jadian Tanggal 26 Desember
               2012 kan, akan selalu ku ingat hari jadi kita itu Anggi”.
Anggi : “hmmm semoga saja perkataanmu itu benar Dian. Ngomong-ngomong ini sudah jam
               berapa? Aku tidak enak sama tetangga nanti takutnya mereka berpikir macam-
               macam, apalagi aku sendirian di rumah”.
Dian   : “iya Anggi ini aku mau pulang juga, sampai bertemu besok di sekolah ya !” (sambil
               bersiap untuk pulang).
Anggi : “iya, hati-hati di jalan ya! Jangan ngebut-ngebut sampai ketemu besok juga”.

Betapa senangnya aku malam itu, tak sia-sia penantian dan do’a ku selama ini. Aku benar-benar tak menyangka hal ini terjadi. Apalagi Dian nembak aku secara langsung bukan lewat SMS, telpon, facebook atau sosmed lainnya, dan romantisnya lagi dia memberikan aku coklat sama bunga. Sungguh senangnya aku dan beruntung bisa punya pacar setampan dan sekeren Dian .
Tidak lama kemudian waktu sudah menunjukan tepat pukul 22.00, dan aku segera cuci muka dan masuk kamar untuk segera tidur. “ya Allah semoga saja malam ini aku mimpi Dian hehehe” ucapku dalam hati.  Dan tidak lupa aku menaruh mawar yang diberikan Dian di samping bantal tidur ku.

Kreeng…..kreeeeng…kreeng bel berbunyi, itu tandanya semua siswa-siswi SMAN 9 waktunya masuk kelas dan bersiap mengikuti pelajaran.
Aku seperti mempunyai semangat baru untuk pergi ke sekolah setiap harinya, Dian lah yang membuat aku semangat. Apalagi setiap harinya aku di antar dan di jemput oleh Dian, mengerjakan tugas sama-sama meskipun aku dan Dian beda kelas, tetapi mata pelajaran kami sama, bedanya hanya Dian duduk di kelas XI IPS 2 dan aku duduk di kelas XI IPS 1. Hari-hari kulewati dengan indah bersamanya, dia selalu ada untukku saat aku memerlukannya dan selalu membantuku setiap aku ada masalah.
Tak terasa 3 bulan lamanya aku pacaran dengan Dian, tepatnya tanggal 26 Maret aku dan Dian merayakan hari jadi kami, seperti bulan-bulan sebelumnya juga, Dian selalu memberikan aku kado dan setangkai mawar. Tapi firasat ku berkata lain, aku merasa malam itu Dian beda denganku, dia dingin dan sedikit cuek, tak banyak bicara ditanya saja dia hanya menjawab seperlunya.
Malam itu Dian datang menjemputku untuk pergi ke sebuah cafe, dalam perjalanan dia hanya diam tak sepatah kata pun dia berbicara padaku, tak seperti biasanya. Ketika sampai di sebuah cafe kami mencari tempat duduk dan memesan makanan. Lalu aku bertanya dengan Dian tentang kondisinya, mungkin saja dia lagi sakit “ucapku dalam hati”.
Anggi : “kamu kenapa? kamu sakit ya ?”.
Dian   : “tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit cape saja”(dengan wajah sinis).
Anggi : “oh, aku kira kamu sakit, kamu kenapa sih malam ini  kayanya beda banget  sama
             aku”.
Dian   : “aku tidak apa-apa, kenapa sih kamu bawel banget” (dengan nada kasar).
Anggi : “kenapa kamu kasar sama aku, aku kan cuma tanya, aku takut kalau kamu kenapa-
             kenapa” (sedikit membentak).
Dian   : “maaf sayang, aku tidak bermaksud kasar sama kamu, aku minta maaf ya” (sambil
               memandang wajah Anggi).
Anggi : “iya tidak apa-apa” (menjawab dengan cuek).

Setelah aku ngobrol-ngobrol dan sudah menghabiskan makanan yang ada di atas meja.

 Akupun meminta Dian untuk mengantarkan aku pulang, karena waktu sudah menunjukan pukul 21.00. Dan Dian pun langsung segera menuruti perintahku, karena Dian tau kalau keluar malam, aku tidak boleh pulang lewat dari jam 9 malam.
**
Tak terasa hari berganti hari minggu berganti minggu dan sikap Dian ke aku semakin berubah. Dia sudah semakin jarang menghubungiku meskipun hanya sekedar SMS singkat dan ucapan selamat pagi, sudah sangat jarang kudapat darinya. Setiap ku telpon selalu saja alasannya sibuklah, inilah, itulah poknya seribu alasan deh. Dan setiap ku sms pun dia jarang balas, dan juga kalau dia balas pun pasti lama. Dia sudah tidak ada waktu lagi buat aku, setiap aku perlu bantuannya dia selalu saja tidak bisa, dia makin menjauh dariku. Aku tak tau apa salah ku padanya, padahal selama ini aku benar-benar tulus sayang sama dia, tapi entah mengapa dia berubah seperti ini. Aku mencoba sabar dan tidak terlalu memikirkan hal ini. Aku cuma bisa berdo’a semoga apa saja yang terjadi nanti merupakan yang terbaik yang di berikan Tuhan untukku dan juga untuk Dian. Seperti kata Mario Teguh “Rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan, sehingga jika yang sedang kau alami sekarang belum baik, berarti itu bukan akhir, maka bertahanlah”.

Tepat tanggal 20 April, tiba-tiba saja Dian nelpon aku minta ketemuan. Katanya dia mau membicarakan hal penting. Setelah hampir satu minggu lebih dia sering menghilang dan jarang memberi kabar ke aku,  jangankan untuk bertemu ditelpon saja selalu alasannya sibuk. Entah apa yang ada dipikarnnya saat ini jadi tiba-tiba saja dia nelpon aku dan memintaku untuk bertemu dengannya. Tapi aku mencoba berpikiran baik saja tentangnya mungkin saja dia mau minta maaf  karena sikapnya akhir-akhir ini denganku.  Aku bersiap-siap untuk menemuinya.

**
Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 aku sudah sampai di sebuah taman untuk menemui Dian, ternyata Dian sudah menungguku lebih dulu.
Anggi : “maaf telat, kamu sudah lama ya? (dengan tergesa-gesa).
Dian   : “tidak apa-apa Anggi, aku baru saja sampai juga”.
Anggi : “ngomong-ngomong ada apa ya Dian kamu memintaku kesini, tumben kan akhir-
               akhir ini kamu sibuk.”(dengan nada sedikit sinis).
Dian : “ada yang perlu aku omongin sama kamu Anggi, mungkin ini menyakitkan”.

Ketika mendengar perkataan Dian tersebut jantungku berdetak kencang seperti pertama kali dia nembak aku 3 bulan yang lalu. Tapi detakan jantung saat ini bukan detakan bahagia melainkan detakan jantung kekecewaan dan rasa yang teramat sakit. “Ya Tuhan mungkinkah ini jawaban dari do’a-do’a ku selama ini, mungkinkah  aku harus melepaskan orang yang aku sayangi selama ini”, ucapku dalam hati. Karena aku sudah curiga dengan ucapan Dian tersebut, aku yakin Dian mau mengakhiri semuanya.

Anggi : “iya Dian, aku tidak apa-apa, kamu mau ngomong apa. Kamu tenang saja aku siap
              apa saja yang ini kamu katakan” (dengan wajah seolah-olah tegar).
Dian   : “maafkan aku sebelumnya Anggi, sebenarnya aku sayang sama kamu tapi aku tidak
              mau menyakiti kamu Anggi, mungkin lebih baik aku jujur sama kamu, dan lebih
              baik aku mengatakannya sekarang kalau nanti-nanti aku takut malah tambah
              menyakitkan”.
Anggi : “aku paham maksud kamu Dian, kamu ingin mengakhiri semuanya kan, ingin
               mengakhiri hubungan kita”.
Dian : “maafkan aku Anggi, aku tergoda oleh wanita lain, dan dia itu adalah mantanku dulu
             sewaktu aku duduk di kelas IX SMP, aku mencoba tetap ingin bertahan denganmu
             tapi nyatanya aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri Anggi, rasa itu sudah tak
             ada lagi  untukmu maafkan aku Anggi”.
Anggi : “(terdiam menunduk)”.
Dian   : “aku tau ini memang menyakitkan, tapi aku  bingung, aku tak bisa membohongi
              perasaanku sama kamu gi. Makanya akhir-akhir ini aku mencoba untuk sendiri dan
              berpikir, tapi mungkin ini keputusan yang terbaik untukmu dan aku. Rasa yang
              sempat hilang waktu dulu, kini datang kembali kepada mantanku dulu gi. Sekali lagi
              aku minta maaf Anggi, mungkin kejujuranku ini membuatmu sakit”.
Anggi : “iya Dian, aku sudah memaafkan kamu, kamu tenang saja, mungkin memang dia
               yang terbaik buat  kamu, aku tidak apa-apa”.
Dian   : “terimakasih Anggi, kamu memang selalu mengerti aku selain mantan terbaik kamu
              juga sahabat terbaik aku”.
Anggi : “sama-sama Dian, ngomong-ngomong aku mau pulang dulu ya sudah sore” (sambil
               bergegas untuk pulang).
Dian   : “tunggu sebentar gi, ada yang mau aku kasih sama kamu, anggap saja ini kenang-
              kenangan dari aku” (sambil mengambil sebuah kado dari dalam tas).
Anggi : “apa ini Dian, tak usah repot-repot lagi pula kamu sudah banyak memberi aku kado”.
Dian   : “aku mohon Anggi, terimalah pemberianku ini”.
Anggi : “hmmm, ya sudahlah aku terima, makasih ya kadonya. Aku mau pulang dulu nanti
               keburu magrib” (bergegas untuk pulang).
Dian   : “iya Anggi, hati-hati di jalan ya, kalau ada apa-apa segera telpon aku”.
Anggi : “iya, makasih kamu juga hati-hati”.

**
Malam itu cuaca sangatlah dingin sampai-sampai angin malam itu terasa menusuk ke tulang . Aku yang tadinya duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat dan ditemani sebuah lagu pop yang lagi tenar-tenarnya saat itu yang berjudul “masih mencintaimu” yang dibawakan oleh PAPINKA band yang berasal dari Indonesia ini mampu membuatku terbawa kedalam perasaan sedih mendalam. Lagu ini sangatlah menyentuh dan bagiku lagu ini sangat mewakili perasaan yang kualami saat ini, akupun hampir meneteskan air mata ketika mendengarnya tapi aku mencoba tegar dan berusaha tidak mengingat lelaki yang telah menyakitiku dan meninggalkanku itu.
Akupun masuk ke dalam rumah dan menuju kamar untuk berbaring sejenak dan melepaskan lelah yang ada di tubuhku ini, entah lelah kenapa akupun tak tau, yang pastinya aku hanya ingin berbaring di kasurku dan memutar lagu-lagu yang mewakili perasaanku. Kini aku terpuruk lemah oleh kenyataan yang menyakitkan itu. Dan akupun mencoba untuk tidak mengaktifkan ponselku selama satu minggu dan menonaktifkan semua akun sosial media karena aku ingin melupakannya dan tidak ingin tau tentangnya lagi.
Tiba-tiba saja aku teringat kado yang dikasih Dian tadi sore denganku, lalu akupun membukanya dan ternyata isinya adalah sebuah boneka Panda yang lucu, “mungkin ini kado terakhir yang diberikan Dian untukku” ucapku dalam hati.
Akupun tak kuat lagi menahan air mata yang hampir jatuh di pelupuk mataku ini.
Lalu akupun menangis sepuas-puasnya untuk mengeluarkan semuanya yang ada di dalam pikiranku saat itu, air mata itu seolah-olah mewakili perasaanku yang tak mampu diucapkan oleh bibir.
Lelaki yang selama ini aku banggakan yang aku sayangi dengan tulus tak kusangka dia lebih memilih wanita lain, entah apa yang dilihatnya dari wanita itu sampa-sampai dia meninggalkanku. Hampir 4 bulan aku bersamanya, suka duka selalu dengannya  dan ternyata semua itu hanyalah tinggal kenangan yang tersisa. “oh Tuhan kuatkan aku”.
Hujan pun turun dengan derasnya pada malam itu seakan-akan langit pada saat itu ikut berduka. Kini hanya tinggal kenangan manis saat bersamamu. Kesedihan yang tak kunjung usai telah menyelimutiku saat itu. Teringat akan kenangan yang dulu pernah buatku bahagia, tapi kini semua tinggal kenangan. Tak ada lagi canda tawa. Sekarang aku hanya sendiri melewati hari-hari tanpamu. Mencoba membiasakan diri untuk melewati hari dengan segala keadaan. Adakah kau merasakan perasaan yang sama dengan perasaanku saat ini Dian? Namun kuyakini bahwa kamu adalah memori tak terlupakan. Terimakasih cinta dan sayang yang pernah kau titipkan padaku.Tapi aku yakin bahwa aku bisa melupakanmu meskipun kau sempat membuat semangat hidupku redup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar