TEORI DAN PEMBELAJARAN MENULIS
TUGAS INDIVIDU
Menulis Artikel
“Memahami Puisi Taufiq Ismail yang Berjudul
“Kembalikan Indonesia Padaku”
Oleh
Eka Anggriani
NIM: A1B114013
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2016
Memahami Puisi Taufiq Ismail yang Berjudul
“Kembalikan Indonesia Padaku”
Sebelum memahami puisi Taufiq Ismail yang berjudul “Kembalikan Indonesia Padaku” ada baiknya terlebih dahulu saya paparkan siapa itu Taufiq Ismail?
Taufiq Ismail lahir 25 Juni 1937 di Bukittinggi, Sumatra Barat, tapi di besarkan di Pekalongan, Jawa Tengah. Dia tamat Fakultas Kedokteran Hewan di Institut Pertanian Bogor. Beberapa lama menjadi staf pengajar di almamaternya, tapi kemudian berhenti karena ia salah seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan.
Penyair angkatan ‘66’ Taufiq Ismail ini mengungkapkan bahwa puisi adalah berbicara dan berekspresi, mengungkapkan suara hati masyarakat dengan bahasa yang dipahami oleh setiap orang, berhasil berbicara dengan sederhana, langsung dipahami karena dia ingat berkabar dan mendongeng di depan publik terbuka. Kita tentu masih ingat bagaimana upaya Taufiq Ismail untuk membangkitkan gerakan demonstrasi massa ketika menumbangkan rezim orde lama pada tahun 1966 dengan kumpulan puisinya yang berjudul Tirani dan Benteng. Pengkategoriannya sebagai penyair angkatan ‘66’ oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Bukunya yang sudah terbit: Tirani (1966), Benteng (1966), Puisi-Puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit (1971), Ladang Jagung (1973), Buku Tamu Museum Perjuangan (19690, dll.
Salah satu puisi Karya Taufiq Ismail yang saya sukai serta menarik untuk dibaca dan dipahami menurut saya yaitu puisinya yang berjudul “Kembalikan Indonesia Padaku”. Berikut puisinya:
Kembalikan Indonesia Padaku
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut
yang menganga
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15
wat, sebagian berwarna putih dan sebagian
hitam, yang menyala bergantian
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang
tenggelam karena seratus juta penduduknya
Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main
pingpong siang-malam dengan bola telur angsa
di bawah sinar lampu 15 wat
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang
pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya
kemudian angsa-angsa berenang-renang di
atasnya
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut
yang menganga, dan di dalam mulut itu ada
bola-bola lampu 15 wat,sebagian putih dan
sebagian hitam, yang menyala bergantian
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang
berenang-renang sambil main pingpong di atas
pulau Jawa yang tenggelam dan membawa
seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan
Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong
siang malam dengan bola yang bentuknya
seperti telur angsa
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang
tenggelam karena seratus juta penduduknya
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15
wat, sebagian berwarna putih dan sebagian
hitam, yang menyala bergantian
Kembalikan
Indonesia
padaku.
Sekarang isi puisi Kembalikan Indonesia Padaku di atas menjadi kenyataan. Hal itu bisa dilihat bahwa jumlah penduduk Indonesia sekarang sekitar 210 juta jiwa lebih dan sebagian besar penduduk Indonesia itu bertempat tinggal di Pulau Jawa. Oleh karena itu, semakin padat penduduk di Pulau Jawa menjadikan lahan pertanian semakin sempit dan terbatas, alhasil bahan kebutuhan pokok pun untuk hidup sehari-hari sulit dipenuhi dan terciptalah penduduk miskin yang sudah berusaha mencari nafkah membanting tulang siang-malam namun hasilnya tetap saja tidak mencukupi. Di antara pnduduk itu, ada orang yang baik dan ada orang yang jahat. Begitu juga dalam mencari nafkah, ada dengan jalan yang halal, ada juga jalan yang haram.
Adanya kesenjangan sosial di masyarakat antara si kaya dan si miskin semakin nyata terutama di Pulau Jawa. Mereka yang kaya lebih sedikit dan berkutat pada golongan tertentu saja, sedangkan si miskin bertambah banyak, karena itu mereka sangat mudah dipermainkan seperti bola pingpong oleh para saudagar. Para saudagar itu dilukiskan oleh Taufiq Ismail sebagai angsa-angsa putih yang berenang-renang. Kerasnya perjuangan mencari nafkah hidup di Pulau Jawa yang penduduknya lebih dari seratus juta jiwa sekarang seakan-akan tidak sanggup menanggung beban di atasnya digambarkan oleh Taufiq Ismail, suatu saat Pulau Jawa akan tenggelam ke dasar lautan. Tiga kali Taufiq Ismail berseru dalam puisinya Kembalikan Indonesia Padaku, tentu bukan hanya sekedar kata-kata atau ucapan belaka tetapi lebih dari itu, beliau ingin menyuarakan agar kekayaan alam (sumber daya alam) yang terkandung di bumi Indonesia dapat dipergunakan atau dikembalikan bagi kepentingan dan kemakmuran rakyat.
DAFTAR PUSTAKA
Suryadi AG, Linus. 1987. TONGGAK ANTALOGI PUUISI MODERN 2. Jakarta: PT
Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar